MAKALAH AQIDAH
KALIMAT SYAHADAT DAN
HISTORITAS KEIMANAN
Mata Kuliah Aqidah
Dosen Pengampu : Ikah Rohillah S.Ag. M. S,I.
Disusun Oleh :
Annisa Rara Ningrum 2301025017
Muhammad Julfikri 2301025255
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMUPENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS MUHAMMDIYAH PROF. DR. HAMKA
2024
ABSTRAK
Dalam makalah ini, akan dibahas bagaimana keimanan dan ketauhidan berkembang dari masa prasejarah hingga masa kenabian, dari Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad SAW. Selain itu, akan dibahas bagaimana keimanan agama Ardhi berhubungan dengan keimanan bangsa lain. Keimanan manusia kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang Maha Esa pada zaman Nabi Adam a.s. murni dan teguh. Kepatuhan kepada perintah-perintah Allah menunjukkan ketauhidan yang tulus dan sederhana. Selain itu, perjalanan iman melalui nabi-nabi seperti Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa menunjukkan perkembangan pemahaman tentang Tauhid dan keberadaan Allah. Ajaran Islam, yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para Nabi, didukung oleh ajaran yang mendalam dari Al-Quran dan Sunnah. Keyakinan Islam memperhatikan aspek ritual serta aspek moral, sosial, dan politik.
Keimanan agama Ardhi juga memiliki hubungan dengan bangsa lain, seperti dalam sejarah perdagangan dan diplomasi. Hubungan ini meningkatkan pemahaman tentang keimanan dan menegaskan bahwa Islam adalah agama yang universal dan inklusif. Makalah ini akan mengkaji keimanan dan ketauhidan sepanjang sejarah, mulai dari Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad SAW. Selain itu, akan menjelaskan bagaimana keimanan agama Ardhi berinteraksi dengan bangsa lain. Dengan demikian, makalah ini memberikan gambaran menyeluruh tentang dasar keimanan dalam agama Islam dan bagaimana hubungannya dengan keimanan agama Ardhi dalam konteks sejarah dan interaksi antara bangsa.
2.1 Sejarah Keimanan dan Ketauhidan Sejak Nabi Adam a.s Hingga Nabi Muhammad SAW.
2.2 Keimanan Agama Ardhi dan Bangsa Bangsa Lain.
2.3 Penyimpangan Aqidah yang Dialami oleh Yahudi, Nasrani, Agama Ardhi, dan Bangsa-Bangsa
2.4 Bagaimana Koreksi Islam Atas Aqidah Yahudi, Nasrani, Agama Ardhi, Dan Bangsa-Bangsa Lain.
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istilah Arab "tauhid" berarti "membuat menjadi satu" atau "menyatukan". Dalam Islam, tauhid dianggap sebagai ajaran utama atau prinsip dasar. Teolog generasi awal menggunakan istilah "tauhid" untuk menafsirkan masalah tentang zat dan sifat-sifat ilahiyah. Mereka juga membela keesaan Allah dari kaum dualis dan Trinitarian. Imam Hanbali kemudian menafsirkan tauhid dari sisi moral pada abad ketiga belas. Pada Abad 19 (Sembilan belas), Muhammad Abduh menulis Risalah Tauhid. Ini kemudian diterjemahkan menjadi Theology of Unity di London pada tahun 1966. Selain berusaha untuk mengembalikan teologi ke masalah klasik, buku ini membahas makna tauhid. Muhammad Abduh berpendapat bahwa "tauhud" adalah ilmu yang membahas "wujud Allah", yang mencakup sifat-sifat yang harus ada pada-Nya dan sifat-sifat yang dapat disifatkan kepada-Nya. Selain itu, dia berpendapat bahwa ilmu ini juga membahas Rasul Allah, termasuk keyakinan akan kerasulan mereka, keyakinan akan apa yang ada pada mereka, apa yang dapat dihubungkan kepada mereka, dan apa yang tidak boleh dihubungkan kepada mereka.
Di dunia ini, ada dua agama: ardh'i dan samawi. Para utusan dan pengikut Tuhan membangun dan menyebarkan agama. Menurut Oxford Student Dictionary, yang dikutip oleh Azka et al., "agama" didefinisikan sebagai kepercayaan dan keyakinan bahwa ada kekuatan supranatural yang menciptakan dan mengendalikan alam semesta. Agama adalah kepercayaan orang terhadap sesuatu yang lebih tinggi daripada manusia. Islam memiliki pengikut terbanyak di dunia. Agama Islam telah diwahyukan oleh Allah SWT sebagai pedoman dan petunjuk bagi orang-orang Islam sebagai jalan yang benar. Inti dari agama Islam adalah tentang keesaan Tuhan dan tauhid, yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai utusan Tuhan yang terakhir, nabi Muhammad menyampaikan ajaran-ajarannya tentang semua aspek kehidupan manusia.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Sejarah keimanan dan ketauhidan sejak nabi Adam a.s. hingga nabi Muhammad SAW?
2. Bagaimana Keimanan agama Ardhi dengan bangsa bangsa lain?
3. Mengapa Terjadi Penyimpangan Aqidah Yang Dialami Oleh Yahudi, Nasrani, agama ardhi, dan bangsa-bangsa lain?
4. Bagaimana Koreksi Islam atas aqidah Yahudi, Nasrani, agama ardhi, dan bangsa-bangsa lain?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang sejarah keimanan dan ketauhidan sejak nabi Adam a.s. hingga nabi Muhammad SAW dimana aqidah tauhid telah ada sejak manusia pertama diciptakan, yaitu nabi Adam a.s. rasul pertama yang membawa risalah ketauhidan ke dunia ini dan mengajarkan kepada generasi pertama keturunannya. Namu seiring bertambahnya jumlah keturunannya dan menyebar ke seluruh bumi, sedikit demi sedikit Aqidah tauhid yang di ajarkan oleh nabi Adam a.s. mulai hilang.
2. Untuk mengetahui keimanan agama Ardhi dengan bangsa bangsa lain dan disebutkan ciri ciri agama ardhi itu sendiri.
3. Untuk Mengetahui Penyimpangan Yang Terjadi Oleh Yahudi, Nasrani, agama ardhi, dan bangsa-bangsa lain.
4. Untuk Mengetaui Bagaimana Islam Mengoreksi atas aqidah Yahudi, Nasrani, agama ardhi, dan bangsa-bangsa lain.
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Keimanan dan Ketauhidan Sejak Nabi Adam a.s Hingga Nabi Muhammad SAW.
Iman adalah karakter jiwa untuk mempercayai dan menerima sesuatu sebagai benar, yaitu sikap jiwa "Sami'na Wa Atha'na", yang mendengar dan mengatakannya serta mentaati sabda Illahi dengan segenap hati, memusatkan segala pengabdian hanya kepada-Nya, menyerahkan diri, hidup, dan mati sepenuhnya kepada-Nya. Arti iman dalam Islam adalah dinyatakan melalui lisan, hati, dan perbuatan. Selain itu, iman juga harus dibenarkan dengan kata-kata melalui lisan.
Kepercayaan terhadap Allah SWT dijelaskan didalam Tauhid. Sebenarnya, kata "tauhid" berasal dari bahasa Arab dan berarti "memanunggalkan", yang berarti mengesakan Allah. Secara tradisional, tauhid adalah keyakinan dan kesaksian bahwa "tidak ada Tuhan selain Allah". Istilah yang paling umum dan dekat dengan tauhid adalah "aqidah", yang berasal dari bahasa Arab dan berarti "ma "uqida al-qalb wa a1-dlamir", "Aqidah" berarti kepercayaan atau keyakinan yang benar-benar melekat di hati manusia.
Kemudian muncul berbagai kesalahan dalam keyakinan tauhid, bahkan sampai menyingkirkan keyakinan itu sendiri. Misalnya, orang yang menyembah berhala percaya bahwa berhala mereka berfungsi sebagai perantara yang mehubungkan mereka dengan Allah SWT. Keyakinan ini sangat bertentangan dengan keyakinan Adam a.s.
Aqidah tauhid telah ada sejak manusia pertama diciptakan, yaitu nabi Adam a.s. rasul pertama yang membawa risalah ketauhidan ke dunia ini dan mengajarkan kepada generasi pertama keturunannya. Namu seiring bertambahnya jumlah keturunannya dan menyebar ke seluruh bumi, sedikit demi sedikit Aqidah tauhid yang di ajarkan oleh nabi Adam a.s. mulai hilang.
Setelah wafatnya nabi Adam a.s dan banyak manusia telah jauh meninggalakan aqidah tauhid yang di ajarkan Adam a.s maka setiap rasul diutus oleh Allah SWT untuk mengajarkan aqidah tauhid yang sama, yaitu bahwa Allah SWT adalah satu-satunya dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Setelah wafatnya nabi Adam a.s, banyak orang telah menyimpang dari aqidah tauhid yang dia ajarkan. Hanya ada beberapa perbedaan dalam cara penyampaian yang disebabkan oleh keadaan dan kondisi masyarakat.
Aqidah tauhid mulai mengalami perkembangan yang cepat dan lambat sesuai dengan waktu, dengan kadang-kadang banyak hambatan dan kadang-kadang banyak dukungan. Banyak orang menentang aqidah tauhid pada zaman Rasulullah saw, terutama dari kaum kafir Quraisy. Namun, akhirnya banyak orang menerima risalah tauhid yang dibawa oleh Rasulullah saw. Ajaran aqidah tauhid terjaga dengan baik ketika Rasulullah masih hidup karena Rasulullah sendirilah yang turun tangan menyelesaikan setiap masalah yang berkaitan dengan aqidah tauhid berdasarkan petunjuk Allah SWT melalui wahyu-Nya. Sebagai contoh, ketika para sahabat berselisih tentang masalah qadar, Nabi Muhammad menjawab, "Apakah dengan ini kamu diperintahkan?" Apakah ini cara saya diutus?Aku tugaskan dirimu supaya kamu jangan berbantah-bantah pada qadar itu. Dengan kata-kata ini, perdebatan antar sahabat akhirnya terselesaikan dengan damai.
Ajaran aqidah tauhid pada awalnya sama setelah Rasulullah saw wafat. Meskipun demikian, seiring berkembangnya agama Islam, dengan pengikut yang berasal dari berbagai wilayah dan suku bangsa, terjadi perselisihan tentang aqidah tauhid. Perselisihan ini muncul ketika pemerintahan Islam menjadi kacau, yang berujung pada pembunuhan Ustman bin Affan. Pada masa ini, muncul berbagai kelompok yang berusaha mempertahankan pendapatnya dengan menggunakan dalil-dalil Al-Quran menurut interpretasi mereka sendiri, yang diragukan kebenarannya. Akibatnya, terjadi berbagai konflik yang menyebabkan banyak korban, seperti Ghailan Ad-damsyiqi, seorang qibti yang masuk Islam, yang kemudian dihukum mati oleh khalifah Hisyam ibnu Malik (wafat 125 H) karena membicarkan masalah qodar. Semua ini sangat merugikan umat Islam.Karena umat Islam sibuk menyelesaikan konflik internalnya sendiri, dakwah Islam terhambat.
Kekuasaan Islam meningkat di akhir abad pertama Hijriyah.Pada saat itu, ajaran aqidah tauhid disampaikan dengan pemahaman yang luar biasa, iman yang kuat, dan kesadaran yang luar biasa. Karena perkembangan dakwah Islam, Islam berinteraksi dengan budaya dan agama negara lain yang telah memeluknya. Akibatnya, ajaran tauhid murni dirusak oleh para muallaf dari berbagai budaya dan agama. Oleh karena itu, para ulama mulai membahas aqidah tauhid dari berbagai sudut pandang untuk memastikan bahwa aqidah tauhid tetap murni (Syamsudin Ramadhan, 2003:7-8). Buku-buku tentang aqidah tauhid, seperti kitab fathul majid dan al-ma’rif, ditulis oleh Ibnu Qutaibah dan Sulaiaman bin Abdullah bin Abdul Wahab, ditulis dalam upaya untuk menjaga kemurnian aqidah tauhid seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Aqidah tauhid terus berkembang seiring dengan zaman, seperti lahirnya ajaran Islam liberal di era modern. Tauhid telah ada sejak Adam a.s., manusia pertama. Kemudian, rasul-rasul setelah Adam a.s. menyebarkan tauhid. Selama perkembangannya, aqidah tauhid mengalami banyak perubahan sesuai dengan keadaan di masanya. Pada masa Rasulullah saw, aqidah tauhid tetap stabil, dan jika ada masalah yang berkaitan dengannya, Rasulullah saw sendirilah yang membantu menyelesaikannya. Namun, setelah Rasulullah saw wafat, banyak perselisihan tentang aqidah tauhid karena agama Islam semakin berkembang dengan berbagai latar belakang para pemeluknya.
2.2 Keimanan Agama Ardhi dan Bangsa Bangsa Lain.
Para ahli memberikan beberapa interpretasi tentang agama samawi dan ardhi. Ada berbagai kategori agama di seluruh dunia. Ernst Trults, seorang teolog Kristen, membagi agama-agama menjadi tiga lapisan. Suku-suku berada di lapisan terbawah, diikuti oleh agama hukum seperti Islam dan Yahudi, dan agama-agama pembebasan seperti Hindu dan Buddha berada di lapisan tertinggi. Karena Ernst Trults adalah seorang Kristen, agama Kristen berada di lapisan tertinggi.
Dalam bukunya "Pandangan Hindu tentang Kekristenan dan Islam", seorang intelektual Hindu Ram Swarup membagi agama menjadi dua kategori: agama kenabian (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama spiritualitas yoga (Hindu dan Buddha). Dia mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik, dangkal secara spiritual, dan penuh dengan klaim kebenaran, dan membawa konflik sepanjang sejarah.
Ada orang yang membagi agama berdasarkan daerah asal mereka, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi yang sekarang dikenal sebagai Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto). Ada juga orang yang membagi agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.). Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam karena secara implisit
Agama Ardhi adalah agama yang berasal dari budaya, wilayah, dan pemikiran seseorang, dan kemudian berkembang menjadi agama yang diterima secara global. Serta tidak berbasis pada wahyu dan tidak memiliki kitab suci. Agama ardhi (bumi) disebut juga agama budaya karena agama ini biasanya diwariskan oleh nenek moyang yang menganut paham dinamisme, poleteisme, dan animisme yang biasanya memiliki ritual. Jika Agama Samawi berlandaskan pada keyakinan bahwa Tuhan Maha Esa, Agama Ardhi berlandaskan pada keyakinan tentang ketuhanan yang tidak pasti, karena pada dasarnya hanyalah ciptaan dan imajinasi belaka.
Hindu dan Buddha termasuk dalam Agama Ardhi karena Hindu berasal dari budaya Aria dan Dravida, dan Buddha berasal dari pemikiran Sidharta Gautama. Agama ini adalah agama yang ajarannya dibuat oleh manusia sendiri dan tidak melampaui batas dan norma. Contohnya adalah Kong Hu Cu, Hindu, dan Budha, yang berasal dari pemikiran pendirinya.
Ciri-ciri Agama Ardhi, yaitu:
1. agama diciptakan oleh tokoh agama
2. Tidak memiliki kitab suci
3. Tidak memiliki nabi sebagai penjelas agama ardhi/Tidak disampaikan oleh utusan tuhan (rasul)
4. Berasal dari daerah dan kepercayaan masyarakat
5. Ajarannya dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan akal pikiran penganutnya.
6. Konsep ketuhanannya panthaisme, dinamisme, dan animisme.
7. Tumbuh secara komulatif dalam masyarakat penganutnya.
8. Ajarannya dapat berubah-ubah ,sesuai dengan akal perubahan akal pikiran penganutnya.
9. kebenaran ajarannya tidak universal,yaitu tidak berlaku bagi setiap manusia,masa dan keadaan.
Contoh agama ardhi yaitu Hindu, Budha, Konghuchu, dll.
Menurut Rahmat Hidayat (2019), agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan yang Maha Tinggi dan diwahyukan kepada para Nabi dan Rasul, yaitu hamba-hamba pilihan-Nya. Dengan kata lain, agama samawi diciptakan untuk manusia. Islam, Kristen, dan Yahudi adalah beberapa contoh agama samawi. Mereka juga memiliki Nabi dan pengikut, kitabnya berasal dari Tuhan dan disampaikan kepada Nabi dan Rasul melalui malaikat Jibril (Mbah Lul, 2022, 31).
Beberapa pendapat menyimpulkan bahwa suatu agama disebut agama Samawi jika:
· Mempunyai definisi Tuhan yang jelas
· Mempunyai penyampai risalah (Nabi/Rasul)
· Mempunyai kumpulan wahyu dari Tuhan yang diwujudkan dalam Kitab Suci
Ciri-Ciri Agama Samawi yaitu:
1. Agamanya tumbuh secara kelahiran dapat ditentukan dari tidak ada menjadi ada.
2. Agama ini mempunyai kitab suci yang otentik (ajarannya bertahan/asli dari tuhan)
3. Secara pasti dapat ditentukan lahirnya,dan bukan tumbuh dari masyarakat,melainkan diturunkan kepada masyarakat.
4. Disampaikan oleh manusia yang dipilih allah sebagai utusan-nya.
5. Ajarannya serba tetap,walaupun tafsirnya dapat berubah sesuai dengan kecerdasan dan kepekaan manusia.
6. Konsep ketuhanannya monotheisme mutlak (tauhid).
7. Kebenarannya adalah universal yaitu berlaku bagi setiap manusia,masa dan keadaan.
Contoh agama samawi adalah Islam, Kristen, dan Yahudi.
2.3 Penyimpangan Aqidah yang Dialami oleh Yahudi, Nasrani, Agama Ardhi, dan Bangsa-Bangsa
Perlu diingat bahwa menjelaskan penyimpangan aqidah dari sudut pandang agama tertentu dapat menyebabkan perdebatan dan perselisihan. Saya akan berusaha memberikan gambaran tentang bagaimana dalam situasi tertentu, keyakinan dan ajaran Yahudi, Nasrani, dan beberapa bangsa dan agama lain dapat dianggap menyimpang.
Yahudi
Keyakinan Yahudi tentang tungguan akan Mesias adalah salah satu kontroversi paling umum. Ada perbedaan dalam keyakinan ini di antara berbagai kelompok Yahudi, tetapi satu kelompok lebih menekankan bahwa tungguan akan seorang Mesias politik yang akan membebaskan bangsa Yahudi dan membangun kembali Kerajaan Israel secara harfiah, sementara kelompok lain lebih melihat Mesias sebagai simbol pemulihan moral dan spiritual. Ini telah menyebabkan banyak pendapat dan interpretasi. Beberapa kelompok Yahudi yang lebih konservatif mungkin mempertahankan keyakinan yang terpisah dan menekankan identitas etnis dan agama secara eksklusif. Di sisi lain, kelompok Yahudi yang lebih liberal mungkin lebih terbuka dan toleran terhadap interaksi dengan budaya dan agama lain.
Nasrani
Banyak aliran dalam tradisi Nasrani memiliki perbedaan keyakinan dan interpretasi teologi yang signifikan satu sama lain. Misalnya, beberapa kelompok Kristen fundamentalis mungkin menekankan interpretasi kitab suci secara harfiah, sementara kelompok lain mungkin lebih suka interpretasi alegoris atau kontekstual. Salah satu kontroversi agama Nasrani dapat mencakup hal-hal seperti pendapat tentang Tritunggal, otoritas gereja, dan peran perempuan dalam gereja. Interpretasi dan praktik-praktik ini dapat sangat berbeda antara denominasi dan aliran.
Agama Ardhi
Agama ardhi yaitu Agama-agama yang berpusat pada kepercayaan terhadap alam dan unsur-unsurnya sering dianggap sebagai penyimpangan aqidah oleh agama-agama monoteistik yang lebih besar. Ini mungkin karena agama-agama ini tidak berpusat pada satu entitas ilahi, tetapi pada kekuatan alam atau dewa-dewi yang mewakili unsur-unsur alam. Beberapa dari agama-agama ini juga mungkin memiliki praktik spiritual atau ritual yang dianggap menyimpang dari agama mereka.
Bangsa Bangsa
Dari sudut pandang bangsa-bangsa, penyimpangan aqidah dapat mencakup keyakinan politik, etnis, atau sosial yang dianggap menyimpang dari standar atau nilai-nilai masyarakat. Misalnya, banyak negara dan masyarakat dapat menganggap pemerintahan yang otoriter, diskriminasi rasial, atau praktik-praktik yang melanggar hak asasi manusia sebagai penyimpangan.
Penting untuk diingat bahwa perspektif tentang apa yang dianggap sebagai "penyimpangan aqidah" dapat sangat berbeda-beda tergantung pada individu atau kelompok tertentu. Ini dapat mencakup segala jenis keyakinan, praktik, atau nilai yang dianggap menyimpang dari norma atau ajaran yang dianggap benar.
2.4 Bagaimana Koreksi Islam Atas Aqidah Yahudi, Nasrani, Agama Ardhi, Dan Bangsa-Bangsa Lain.
Islam tidak hanya mengajarkan toleransi terhadap keyakinan dan agama lain, tetapi juga memberikan perspektif dan koreksi terhadap keyakinan yang dianggap menyimpang dari pandangan Islam. Saya disini akan seditkit menjelaskan bagaimana koreksi Islam terhadap keyakinan dari berbagai agama dan bangsa bangsa lain.
Koreksi Islam Terhadap Yahudi Dan Nasrani
Konsep tunggalitas Allah (Tauhid) diajarkan dalam agama Islam, yang menegaskan bahwa hanya Allah yang pantas disembah tanpa sekutu atau mitra. Ini merupakan koreksi terhadap keyakinan Trinitas dalam agama Nasrani, yang dianggap oleh Islam sebagai penyimpangan dari tauhid. Selain itu, Islam mengoreksi keyakinan tentang sifat dan karakteristik Nabi Isa (Yesus) dalam agama Nasrani; dalam Islam, Isa dianggap sebagai seorang nabi yang mulia, bukan sebagai Tuhan atau anak Allah. Dengan demikian, konsep ketuhanan yang diberlakukan dalam agama Nasrani dikoreksi.
Koreksi Islam Terhadap Agama Ardhi
Islam mengajarkan penghormatan terhadap semua yang diciptakan oleh Allah, baik alam maupun dewa-dewi lainnya. Namun, ia menekankan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, bukan unsur-unsur alam atau dewa-dewi lainnya. Konsep tauhid dalam Islam merupakan penyesuaian terhadap kepercayaan agama Ardhi, yang menganggap kekuatan alam atau entitas alam lainnya. Selain itu, agama Islam menekankan bahwa praktik spiritual atau ritual hanya harus dituju kepada Allah semata-mata, bukan kepada makhluk atau kekuatan alam lainnya. Ini bisa dianggap sebagai perbaikan terhadap praktik agama Ardhi yang mungkin mengarah pada penyembahan atau pemujaan alam atau dewa-dewi.
Koreksi Islam Terhadap Bangsa Bangsa Lain
Islam menekankan keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Oleh karena itu, Islam memiliki kemampuan untuk memperbaiki kebiasaan atau kebijakan yang bertentangan dengan nilai-nilai ini, seperti penindasan, diskriminasi, atau pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh negara lain. Selama tidak bertentangan dengan tauhid dan nilai-nilai Islam, Islam mendorong perdamaian, keadilan sosial, dan hubungan baik dengan negara lain.
Jadi menurut kami koreksi Islam mengajarkan pendekatan yang penuh dengan hikmah, diskusi, dan toleransi dalam memberikan koreksi terhadap keyakinan atau praktik-praktik yang dianggap menyimpang. Selain itu, ia mempertahankan nilai-nilai Islam yang mendasar dan prinsip-prinsip tauhid.
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari makalah di atas, kita dapat sedikit menyimpulkan yaitu Salah satu prinsip utama Islam adalah aqidah tauhid, yang mengajarkan kepercayaan kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang pantas disembah. Sejarah keimanan dan ketauhidan dimulai sejak nabi Adam a.s. hingga nabi Muhammad SAW., tetapi sering berubah seiring waktu. Berbeda dengan agama samawi yang berpusat pada wahyu, agama ardhi berpusat pada budaya dan kepercayaan masyarakat. Berbagai agama dan keyakinan dapat mengalami penyimpangan aqidah, seperti Yahudi, Nasrani, dan agama ardhi.
Dengan menekankan konsep tauhid dan mengajarkan prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, Islam memperbaiki kesalahan aqidah. Koreksi ini dilakukan melalui pendekatan yang penuh dengan hikmah, diskusi, dan toleransi, sambil mempertahankan nilai-nilai Islam yang paling mendasar.
Karena itu dapat kita simpulkan bahwa Islam mengajarkan kesadaran akan tauhid serta menghargai keberagaman keyakinan dengan pendekatan yang bijaksana dan penuh toleransi.
3.2 Saran
dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan, umat Islam dapat berperan aktif dalam memerangi segala bentuk diskriminasi, penindasan, dan pelanggaran hak asasi manusia. Islam mengajarkan pentingnya keadilan sosial dan penghargaan terhadap martabat manusia, sehingga umat Islam diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang positif dalam masyarakat. Dengan menerapkan saran ini, diharapkan umat Islam dapat memperkuat keimanan, meningkatkan toleransi antarumat beragama, serta berkontribusi dalam membangun masyarakat yang adil dan harmonis.
DAFTAR PUSTAKA
Sirait, S. (2020). Tauhid dan Pembelajarannya. Diakses pada tanggal 31 Maret 2024.
https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/43052/1/Tauhid%20dan%20Pembelajarannya.pdf
Irmawansyah, KM. (2013). Sejarah Keimanan Dan Ketauhidan Sejak Nabi Adam A.S. Hingga Nabi Muhammad SAW. Diakses 1 Oktober 2013. Dari https://irmawansyah10.blogspot.com/2013/10/sejarah-keimanan-dan-ketauhidan-sejak_4810.html
Pengertian Agama Samawi dan Agama Ardhi (2013). https://www.e-jurnal.com/2013/11/pengertiani-agama-samawi-dan-agama-ardhi.html
Hayumi. (2022). Meninjau Kembali Paradigma Islam Sebagai Agama. Indonesian Of Interdisciplinary Journal.
https://jurnal.desantapublisher.com/index.php/desanta/article/view/74
Amaliyah (2017). SATU TUHAN TIGA AGAMA
(YAHUDI, NASRANI, ISLAM DI YERUSALEM)
Jurnal: Agama dan Lintas Budaya

Komentar
Posting Komentar